Bawa` dirigen…
Oleh : Holi Hamidin
Saat ini bahan bakar sulit dicari; apalagi bensin. Untuk mendapatkan barang itu, harus antri setengah jam bahkan lebih. Itu-pun jika kebagian. Walau ada alternative lain, tapi jalan itu juga harus merogohkan uang yang banyak; yang jauh berbeda dengan harga sebenarnya.
Hari minggu (27/02) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sekolah Tinggi Islam Negeri (STAIN) Pontianak menggelar rapat. Tak tanggung-tanggung, acara tercebut digelar di jungkat beact. Di tempat yang jauh dari kampus itu. Tentu hal ini butuh persiapan yang matang untuk mengatasi segala kemungkinan yang akan terjadi di jalan nanti.
Bensin motor yang ku punya ku rasa janggal. Alih-alih untuk membeli muncul saat itu. Terpaksa menuju pom bensin terdekat. “waw, ramainye…” ujarku terkesan dengan keadaan pom bensin pagi itu. Sekitar jam 8-nan aku tiba di sana. Panas matahari tak ada yang membendung. Kendati sekali-kali berteduh pada orang sebelah, panas yang menyengat tetap saja terasa.
Sambil menunggu aku memperhatikan orang-orang yang juga menunggu giliran. Diantara mereka ada yang membawa dirigen yang di singsingkan di sebelah motornya. Walau tidak besar, namun itu melebihi 2 liter.
Sebelum tiba giliranku, aku melihat ada kertas yang dipajang di tiang penyanggah paying. Kertas itu menyatakan permohonan ma`af karena sementara ini tidak dapat melayani pengisian melalui dirijen dan sebagainya yang selain kendaraan. Ironisnya, sang penjaga pura-pura tidak tahu. Tetap saja ia menuangkan atau melayani mereka yang sedang membawa dirijen.
Akhirnya, sampailah giliranku. “ful bang…” pintaku pada seorang penjaga bensin. Ku buka jok motorku yang menutupi lubang tempat bensin dituangkan. Aku terkejut. Ternyata, bensin ku masih penuh. Aku nyesal. Ngantri setengah jam hanya numpang berjemur. “Besok-besok bawa dirijen jak.” kataku kesal dalam hati.
Jika seperti ini kejadiannya, moh aku ngantri age`…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar